Saturday, December 27, 2014

Menyemai Bunga Suplir dari Spora

Banyak penangkar yang telah mengembangbiakkan suplir melalui spora. Dengan cara ini hasilnya memang luar biasa. Dari spora yang diambil dari satu daun saja, ribuan suplir bisa dihasilkan dalam tempo sekitar setahun. Bahkan kalau kebetulan, kita pun bisa mendapatkan suplir "jenis" baru, baik itu melalui persilangan maupun mutasi.

Bagaimana cara menyemai suplir, tiap penangkar mempunyai cara tersendiri. Berikut ini cara menyemai suplir yang dilakukan oleh Ulih, penangkar suplir pada Ciapus Nursey.

Mempersiapkan media


Untuk melakukan penyemaian, pertama-tama yang perlu dipersiapkan adalah medianya. Ulih biasa menggunakan campuran humus bambu, kaliandra, pupuk kandang, paku/pakis berbanding 4 : 1 : 1 : 4. Memang sama dengan yang dipakai untuk tanaman suplir besar, tetapi karena akan digunakan untuk semaian, maka ukuran tiap-tiap komponen diusahakan lebih halus.

Untuk mendapatkan hasil semaian yang maksimal, media yang akan digunakan mesti disterilkan dulu. Caranya bisa dengan disangrai atau direbus terlebih dahulu. Dengan perlakuan tadi maka bibit-bibit hama dan penyakit yang ada akan mati sehingga semaian kita aman dari gangguannya.

Memilih wadah dan menyemainya


Wadah semaian yang akan digunakan terserah selera masing-masing. Boleh wadah plastik pendek berbentuk empat persegi panjang atau pot plastik biasa. Ulih lebih suka menggunakan pot plastik biasa yang berdiameter 20 cm, karena dengan ukuran yang lebih kecil, risiko terserang cendawan bisa terbagi.


Pot diisi media kira-kira 2/3 tingginya. Media kemudian disiram air secukupnya sehingga cukup lembap. Setelah itu, di atasnya ditaburi tumbukan batu bata yang telah dihaluskan setebal 1-2 mm. Maksud pemberian bubuk batu bata adalah untuk meningkatkan pH media semai.

Suplir sendiri memang menyukai kondisi yang seperti ini, sebaliknya jamur tidak bisa tumbuh pada kondisi seperti tadi. Karena itu, jumlah spora yang tumbuh menjadi protalium meningkat. Selanjutnya, kita tinggal menaburkan spora suplir ke atas media.

Tahap selanjutnya, kita tinggal memasukkan pot itu ke dalam kantung plastik dan menutup bagian atasnya dengan karet gelang. Maksudnya, agar kelembapan yang tercipta di dalam kantung palastik bisa tahan lama dan benih cendawan dari luar tidak masuk, sepanjang waktu yang diperlukan spora untuk bertunas.

Penempatan dan pemisahannya


Seluruh semaian kemudian diletakkan di bawah rak-rak suplir atau bisa juga di tempat lain asalkan cukup lembap dan tidak terkena cahaya matahari langsung. Biasanya 1-2 minggu kemudian permukaan media sudah berwarna kehijauan. Itu pertanda bahwa protalium sudah terbentuk.

Enam minggu kemudian barulah protalium-protalium itu dijarangkan. Penjarangan dilakukan dengan menempatkan protalium pindahan ke dalam pot-pot plastik berdiameter 10-12 cm. Pot-pot ini tetap dalam selubung kantung plastik.

Satu setengah bulan kemudian, yaitu ketika protalium-protalium sudah mempunyai 2 helai daun, penjarangan kedua dilakukan sehingga tiap pot berisi kira-kira 20 tanaman. Pada fase ini kerudung plastik sudah boleh dibuka tetapi selama 10 hari pertama tanaman muda ini mesti diletakkan ditempat yang teduh. Selanjutnya selama 5 hari secara bertahap tanaman mulai diletakkan di tempat yang terkena cahaya matahari.

Setelah melewati fase ini, suplir dijarangkan sehingga tiap pot kecil hanya berisi 1 tanaman saja. Tahap selanjutnya, tinggal keterlatenan kita dalam memeliharanya sehingga tanaman tumbuh subur dengan daun-daunnya yang cantik menawan.

Terima Kasih dan Semoga Bermanfaat
Sumber : Majalah Trubus

Friday, December 26, 2014

Ikan Malam Bercahaya, Menakjubkan

Peruvin Blue Tetra (Boehlkea fredcochui) dan Golden Tetra (Hemigramus armstrongi) dapat mengeluarkan cahaya dalam gelap. Hingga warna Golden Tetra yang kuning keemasan dan Peruvian Blue yang kebiruan akan tampak indah pada malam hari.

Si Biru dan Si Emas


Di Jakarta Peruvian Blue Tetra dijuluki Blue King Tetra (Boehlkeia fredcochui) karena warna birunya yang menawan itu. Bentuknya memang seperti ikan tetra lainya, pipih. Panjangnya paling besar cuma 5 cm. Nama Peruvian diambil dari daerah asalnya, Peru. Habitat aslinya memang hulu sungai Amazon yang mengalir dari Peru ke Brazil.


Peruvian Blue Tetra
Golden Tetra yang berasal dari Amerika Selatan, Guyana dan ditemukan oleh Schultz dan Axelrod, 1955 - dihiasi garis hitam horisontal yang membelah dua badannya, mulai dari ekor mengecil sampai sirip dada. Warna badannya kuning emas, hingga dijuluki Golden Tetra. Seperti juga si Biru, ia hanya bisa mencapi ukuran terbesar 5 cm.

Masih Kerabat Piranha


Kedua jenis tetra ini masih berkerabat dengan piranha (Serrasalmo), dalam satu famili Characideae. Blue dan Golden tetra juga mempunyai gigi-gigi sisir yang tajam di rahang atas dan rahang bawahnya. Sifatnya pun agak "buas".

Golden Tetra
Mereka suka memangsa serangga bersayap kecil yang terbang dekat permukaan air. Sebab itu, baiknya menurunkan permukaan air akuariumnya kurang lebih 15 cm dari bibir akuarium, agar ikannya tidak jatuh kelantai kalau menyergap serangga udara. Memang menyenangkan melihat kedua jenis ikan ini menyambar lalat yang dilemparkan ke permukaan air. Tetapi ia tidak harus selalu diberi makan serangga, cacing sutera atau kutu air pun ia suka.

Warnanya Cerah Bila Gelap


Warnanya biru dan emasnya akan nampak berbahaya dalam gelap. Hal ini disebabkan oleh adanya pori-pori pada sisiknya yang akan terbuka bila suasana gelap, sehingga akan berpendar. Hal ini bisa dimaklumi karena keduanya termasuk ikan malam.
Warna ikan ini akan tampak cerah jika dalam tempat hidupnya terdapat banyak tumbuhan. Karena itu, upayakan agar akuariumnya banyak ditumbuhi tanaman air sehingga kelihatan alami. Dibiarkannya pula ikan-ikan itu bertelur sampai telur-telurnya menetas.

Terima Kasih dan Semoga Bermanfaat
Sumber : Majalah Trubus